Rabu, 24 Oktober 2018

Refleksi kelima kuliah filsafat ilmu


berikut pertanyaan dan jawaban yang saya refleksikan dari pertemuan kelima perkuliahan filsafat ilmu oleh Prof. Marsigit :
1.       Pandang filsafat dalam pelecahan agama itu seperti apa?
Agama jika dalam kajian kita masuk kedalam spiritualitas, sedangkan pelecahan itu termasuk pemanfaatan bahasa. Bahasa tidak akan mampu mencerminkan pikiran, maka terkadang pikiran saja tidak terlalu lengkap apalagi bahasa ada yang disadari, tidak disadari, sepenggal-penggal dan sebagainya. Sehingga hal tersebut bisa memberikan suatu makna berbeda terhadap  apa yang dimaksudkan, maka dari itu akan menimbulkan suatu pelecehan. Pelecehan agama itu terjadi jika tidak menerapkan dalil-dalil sesuai dengan ruang dan watunya, maka apalah daya pikiran kita dalam memikirkan agama, hal tersebut hanya bisa kita rasakan ketika kita berdoa.

2.      mengapa sulit mencerna tulisan ?
Caranya baca baca dan baca, terus-menerus diulangi. Kenapa sulit? karena sebagian ditulis dengan bahasa analog. Bahasa analog merupakan bahasa metafisik, dimana metafisik itu ialah maksudnya ada dalam makna sebaliknya. Jadi yang kita lihat, dengar dan rasakan itu merupakan kualitas pertama, sedangkan metafisik merupakan kualitas kedua, ketiga, dan seterusnya. Sampai kapan ? tidak akan berakhir, ini yang dinamakan dengan infinitrigres.

3.      Apa di dunia ini ada yang berlaku sebagai bukan benar dan bukan salah?
Banyak sekali, misalnya saya dan kamu itu merupakan bukan benar dan bukan salah.
Contoh : A adalah himpunan dari x dimana x ≠ x, apakah x anggota himpunan A?
Jawabannya : x merupakan angota dan bukan anggota himpunan A, jadi x itu merupakan benar dan bukan benar sebagai anggota A. Kenapa? Karena kedua unsur tersebut ada dalam himpunan A. Begitupun dalam berfilsafat jika kita salah menempatkannya akan berbahaya. Bahayanya berfilsafat jika tidak memperhatikan ruang dan waktu, parsial, dan salah paham. Misalnya : Bisakah tuhan menciptakan batu yang dangat besar sedemikian rupa sehingga tuhan sendiri tidak mampu mengangkanya

4.       Apa itu cinta, kasih, rindu dan sayang?
Cinta, kasih, rindu, benci dan sayang filsafatnya adalah Romantisism. Jadi semua itu ikonik, tergantung pikiran anda masing-masing. Dunia itu romantis. Ikonik itu ada yang dekat dan ada yang jauh. ikonik itu dekat dengan determinism. Pertempuran dan perebutan kekuasaan bisa juga disebut dengan Romantisism, maka pertempuran antar negara bisa juga isomorfis (setara dengan percintaan). Dari sisi ikonik romantis, sebenar-benar hidup adalah romantis. Sedangkan dari sisi ekonik ekonomi, sebenar-benar hidup adalah ekonomi. Dan sebenar-benar dunia adalah seperti apa yang engkau pikir dan rasakan.

5.      bagaimana menyeimbangkan dan menyelaraskan antara pikiran, hati dan perbuatan.
jalani pikiran anda, wujudkanlah pikiran anda dalam bentuk tindakan dan pikirkan tindakan anda kemudian doakan pikiran anda dan doakan tindakan anda. jika dirangkum menjadi satu disebut dengan Hermenetika. Hermenetika berasal dari kata Hermein yaitu seorang dewa di jaman Yunani. Dewa Hermein dianggap sebagai dewa yang mampu mendengar bisikan Tuhan yang kemudian disampaikan kepada masyarakat. Maka Hermein berarti menterjemahkan dan Hermenetika berarti menterjemahkan dan diterjemahkan. Dalam bahasa jawa disebut dengan Cokro Manggilingan, Cokro itu bundar dan Manggilingan itu berjalanan. Jadi, Cokro Manggilingan adalah sesuatu yang bundar yang berjalan.  

6.       bagaimana mengatakan yang mungkin ada?
Mengatakan yang mungkin ada yaitu dengan cara Hermenetika

7.       apa itu A priori?
A priori itu paham tetapi belum melihat, mendengar atau mungkin belum menyentuh. Contoh: kamu memahami bahwa kamu memiliki jantung, maka dikatakan pemahamanmu tentang jantung itu bersifat A priori.

8.      Bagaimana salah dan benar dalam filsafat? Apakah wadah dan isi?
Bahasa analog, wadah dan isi. Jika wadahnya suami, maka isinya istri. Jika wadahnya kakak, maka isinya adik. Jika wadahnya wadah maka isinya isi. Jika wadahnya ruang maka isinya waktu. Jika wadahnya waktu maka isinya ruang. Kenapa isi isinya wadah? Kaena infinitrigres  terus menerus. Jika wadahnya langit maka isinya bumi. Jika wadahnya dompet maka isinya duit.

9.       Bagaimana agar bisa terus konsisten?
Hidup ini tidak konsisten, kontradiktif. Berlaku A tidak sama dengan A, Karena terikat pada ruang dan waktu.

10.   Benar dan salah
Benar dan salahnya pikiran itu konsiten atau tidak konsisten. Benar dan salah kenyataan itu adalah cocok dan tidak cocok.  Cocok dan tidak cocok yaitu korespondensi. Konsisten sama dengan koherensi.

11.  penyesalan?
penyesalan itu termasuk romantis. Tapi dalam pikiran yang dinaikkan dalam spiritualitas, penyesalan yaitu mohon mpun atas segala dosa.

12.  Apakah bapak punya gengsi?
“ya setiap saat punya gengsi saya”. Gengsi terhadap yang tidak sesuai dengan ruang dan waktu.



Refleksi ketiga kuliah filsafat ilmu


Jaman dulu menggunakan masker justru merasa malu kalau ketahuan sedang sakit, Justru menjadi munafik karena menyebarkan virus padahal menggunakan masker merupakan sebuah good behavior. Beda halnya dengan merokok. Tidak semua orang menyukai asap rokok. ada yang tidak bisa merokok dan yang menggunakan rokok hanya untuk bergaya saja dan itu banyak terlihat dari anak kecil yang terkena pengaruh rokok biasanya karena ingin mencari jati diri.
Suatu ketika spiritual Pak Marsigit merasa dalam tingkat yang tertinggi kemudian sholat berjamaah di masjid. Hal tersebut termasuk bagian dari mencari jati diri. Setelah sholat subuh melakukan sholat sunnah padahal tidak ada tuntunannya dalam Islam. Mencari jati diri sampai tuapun juga masih bisa terjadi. Contoh lain suatu ketika ada orang yang baru saja menunaikan ibadah haji dan ada tetangganya yang meninggal. Diberikan kepercayaan oleh yuang lainnya untuk memimpin sholat jenazah. Karena untuk mencari jati diri, orang itu mau melakukannya tapi tidak memahami dengan betul hingga melakukan sujud saat memimpin sholat jenazah. Saat salah hanya bisa menyalahkan orang lain yang menyuruhnya memimpin sholat jenazah. Hidup selalu mencari jati diri dan selalu belajar.
Bapak Marsigit menjelaskan objek dari filsafat yaitu segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Jika harus menyebutkan, bermilyar pangkat bermilyar maka kamu tidak akan mampu untuk menyebutkannya. karena filsafat itu merupakan olah pikir maka yang mungkin ada dimaksudkan yang ada dalam pikiran. Kita mengetahui sedikit yang ada dalam pikiran kita, satu diantara semiliar pangkat semiliar dari keseluruhan yang mungkin ada yang bisa kita pikirkan. Atau juga yang ada dan yang mungkin ada di dalam hati
Permasalahan dalam filsafat hanya ada 2 macam, yaitu : bagaimana kamu bisa menjelaskan yang ada dalam pikiranmu, dan bagaimana kamu mengerti apa yang di luar pikiranmu. Sejak zaman Socrates dari 200 tahun yang lalu, terbukti tidak ada orang yang mampu melakukannya. Yang ada adalah semua orang atau sebagian orang mengaku merasa mengerti. Belajar berfilsafat adalah memposisikan diri dan mendudukan kembali kesadaran manusia yang sudah merasa mengerti sebetul-betulnya hanya sebagian.




Refleksi kedua kuliah filsafat ilmu


Seperti pertemuan kemarin, Pak Marsigit mengawali perkuliahan dengan meminta mahasiswa untuk mengatur bangku duduk membentuk setengah lingakaran. Perkuliahan diawali dengan tes jawab singkat dan dilanjutkan dengan melakukan tanya-jawab oleh mahasiswa kepada Bapak Marsigit. Kami menjalani tes jawab singkat pertama dengan 20 soal. Dari 20 soal, tidak ada satupun soal yang dapat saya jawab dengan benar. Saya mendapatkan nilai nol dan seluruh mahasiswa mendapatkan nilai nol.
Menurut Pak Marsigit kebanyakan jawaban dari mahasiswa tidaklah lengkap, kebanyakan jawaban tersebut mendzholimi jawaban lainnya yang belum sempat untuk diutarakan. Padahal jawaban yang lain dn belum sempat untuk diutarakan itu juga memiliki hak untuk diutarakan. Lantas jika begitu maka mengapa hanya menjawab satu jawaban saja? Jawaban para mahasiswa itu parsial, parsial itu ialah sumber persoalan.  Seluruh persoalan yang ada di dunia dikarenakan manusia itu parsial, dan ini sangat bahaya. Jawaban dari 20 soal pertanyaan singkat tersebut haruslah diawali kata “BELUM TENTU KARENA”, setelahnya kemudian baru bisa diikuti oleh jawaban yang ingin dituliskan oleh mahasiswa yang bersangkutan. Sebagian manusia itu sering merasa tergoda untuk menganggap dirinya mengerti dan itu berbahaya. Filsafat itu berbeda dengan matematika, jika dalam matematika yang tadinya tidak paham berubah menjadi paham, tetapi sebaliknya, dalam filsafat yang tadinya paham justru menjadi tidak paham. Pak Marsigit menyampaikan bahwa sebenarnya tugas beliau adalah mengguncang-guncangkan pikiran para mahasiswa.  Terjadi goncangan di dalam pikiran itu tidaklah begitu masalah, tapi janganlah terjadigoncangan di dalam hati. Sedikit saja ada goncangan di dalam hati itu datangnya dari syaiton/setan.
Namun ternyata inilah yang diharapkan oleh Prof. Marsigit.  Menurut beliau dengan nilai nol yang didapatkan ini, diharapkan mahasiswa tidak lagi berlaku sombong dengan apa yang dimilikinya, karena dengan apa yang mereka peroleh dalam tes jawab singkat ini menunjukkan bahwa sebenarnya mereka masih dalam keadaan kosong. Untuk itu hendaklah mahasiswa melakukan koreksi terhadap diri masing – masing agar menjadi lebih baik kedepannya.




Refleksi keempat kuliah filsafat ilmu


Menurut beliau, filsafat adalah diriku sendiri. Engkau yang sedang menjelaskan itulah engkau sedang berfilsafat.  Mau ngomong apa saja silahkan. Supaya tidak terancam kematian karena filsafat itu penjelasanmu, semakin banyak yang kau jelaskan mengenai filsafat itupun belum cukup karena tidak ada orang yang benar-benar dapat menjelaskan filsafat, yang benar adalah hanya berusaha untuk mendekati kebenaran, semakin banyak berusa semakin baik, begitupun sebaliknya semakin sedikit berusaha mendekati kebenara maka, semakin anda mendekati sebuah kematian.
Dalam filsafat juga terdapat rasa malu, rasa malu sendiri dimaksutkan untuk menjadikan diri sebagai pribadi yang dapat menempatkan diri dalam kondisi lingkungan, seprerti yang di contohkan oleh pak marsigit meskipun beliau pejabat, atu harus tau diri,saya ini anak muda, kalo anak muda, dari sisi filsafatnya, sisi tata kramanya, ketika duduk dalam sebuah acara janganlah duduk didepan, duduklah dibelakang, apabila duduk didepan ya matilah dia, mati apanya? Ya mati tata kramanya. Jadi, mati itu meliputi semua dan yang mungkin ada.
Menunjuk itu determin, determin itu jatuhnya suatu sifat ke sifat yang lain. Menjatuhkan sifat juga harus memandang benar atau salah. Dari sini lahirlah paham determinisme yaitu orang-orang yang suka menjatuhkan sifat. Eh kamu, tukang tarlambat, terlambat baru sekali dikatakan tukang tarlambat, jadi saya menjatuhkan sifat pada dia. Sudah ku cap, ku klaim dia sebagai orang yang tukang tarlambat, di dalam  pewayangan, pasti seorang prajurit tidak akan menjatuhkan penglihatannya kepada sang raja dengan menengadahkan wajah lansung melihat rajanya karena itu namanya determin yg salah,  tidak sepantasnya. Maka dari itu tujuan hidup itu pada hakikatnya adalah menjatuhkan pada atau determin. Tuhan menjatuhkan sifatnya yang Ar-Rahman dan Ar-Rohim maka terciptalah dunia ini.