Rabu, 24 Oktober 2018

Refleksi keempat kuliah filsafat ilmu


Menurut beliau, filsafat adalah diriku sendiri. Engkau yang sedang menjelaskan itulah engkau sedang berfilsafat.  Mau ngomong apa saja silahkan. Supaya tidak terancam kematian karena filsafat itu penjelasanmu, semakin banyak yang kau jelaskan mengenai filsafat itupun belum cukup karena tidak ada orang yang benar-benar dapat menjelaskan filsafat, yang benar adalah hanya berusaha untuk mendekati kebenaran, semakin banyak berusa semakin baik, begitupun sebaliknya semakin sedikit berusaha mendekati kebenara maka, semakin anda mendekati sebuah kematian.
Dalam filsafat juga terdapat rasa malu, rasa malu sendiri dimaksutkan untuk menjadikan diri sebagai pribadi yang dapat menempatkan diri dalam kondisi lingkungan, seprerti yang di contohkan oleh pak marsigit meskipun beliau pejabat, atu harus tau diri,saya ini anak muda, kalo anak muda, dari sisi filsafatnya, sisi tata kramanya, ketika duduk dalam sebuah acara janganlah duduk didepan, duduklah dibelakang, apabila duduk didepan ya matilah dia, mati apanya? Ya mati tata kramanya. Jadi, mati itu meliputi semua dan yang mungkin ada.
Menunjuk itu determin, determin itu jatuhnya suatu sifat ke sifat yang lain. Menjatuhkan sifat juga harus memandang benar atau salah. Dari sini lahirlah paham determinisme yaitu orang-orang yang suka menjatuhkan sifat. Eh kamu, tukang tarlambat, terlambat baru sekali dikatakan tukang tarlambat, jadi saya menjatuhkan sifat pada dia. Sudah ku cap, ku klaim dia sebagai orang yang tukang tarlambat, di dalam  pewayangan, pasti seorang prajurit tidak akan menjatuhkan penglihatannya kepada sang raja dengan menengadahkan wajah lansung melihat rajanya karena itu namanya determin yg salah,  tidak sepantasnya. Maka dari itu tujuan hidup itu pada hakikatnya adalah menjatuhkan pada atau determin. Tuhan menjatuhkan sifatnya yang Ar-Rahman dan Ar-Rohim maka terciptalah dunia ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar