Menurut beliau, filsafat adalah diriku
sendiri. Engkau yang sedang menjelaskan itulah engkau sedang berfilsafat. Mau ngomong apa saja silahkan. Supaya tidak
terancam kematian karena filsafat itu penjelasanmu, semakin banyak yang kau
jelaskan mengenai filsafat itupun belum cukup karena tidak ada orang yang
benar-benar dapat menjelaskan filsafat, yang benar adalah hanya berusaha untuk
mendekati kebenaran, semakin banyak berusa semakin baik, begitupun sebaliknya semakin
sedikit berusaha mendekati kebenara maka, semakin anda mendekati sebuah kematian.
Dalam filsafat juga terdapat rasa malu,
rasa malu sendiri dimaksutkan untuk menjadikan diri sebagai pribadi yang dapat
menempatkan diri dalam kondisi lingkungan, seprerti yang di contohkan oleh pak marsigit
meskipun beliau pejabat, atu harus tau diri,saya ini anak muda, kalo anak muda,
dari sisi filsafatnya, sisi tata kramanya, ketika duduk dalam sebuah acara
janganlah duduk didepan, duduklah dibelakang, apabila duduk didepan ya matilah
dia, mati apanya? Ya mati tata kramanya. Jadi, mati itu meliputi semua dan yang
mungkin ada.
Menunjuk itu determin, determin itu
jatuhnya suatu sifat ke sifat yang lain. Menjatuhkan sifat juga harus memandang
benar atau salah. Dari sini lahirlah paham determinisme yaitu orang-orang yang
suka menjatuhkan sifat. Eh kamu, tukang tarlambat, terlambat baru sekali
dikatakan tukang tarlambat, jadi saya menjatuhkan sifat pada dia. Sudah ku cap,
ku klaim dia sebagai orang yang tukang tarlambat, di dalam pewayangan, pasti seorang prajurit tidak akan
menjatuhkan penglihatannya kepada sang raja dengan menengadahkan wajah lansung
melihat rajanya karena itu namanya determin yg salah, tidak sepantasnya. Maka dari itu tujuan hidup
itu pada hakikatnya adalah menjatuhkan pada atau determin. Tuhan menjatuhkan
sifatnya yang Ar-Rahman dan Ar-Rohim maka terciptalah dunia ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar